CLOSE ADS
CLOSE ADS
aikido
  • Save

Belajar Bela Diri untuk Memahami (bukan Mengalahkan) Orang Lain

0 Shares

Dalam Aikido diajarkan, ketika seseorang menyerang kita bukan berarti orang itu ingin menyakiti kita. Itulah kenapa semua teknik di Aikido itu bukan bertujuan untuk menyakiti lawan, tapi menghentikan serangan lawan.

~ Teguh Juwono.

SAYA, pada usia 51 tahun, sedang berencana memulai latihan bela diri. Saya ingin ada alasan bagi saya untuk secara teratur mengggerakkan tubuh saya.

Saya mencari tempat latihan dekat rumah, mengecek biayanya, dan jadwalnya. Ada satu yang cocok, sebuah dojo Aikido di sebuah masjid di seberang komplek.

Oh ya, saya memang mencari tempat latihan Aikido. Antara lain karena status-status Facebook Teguh Juwono, seorang master Aikido yang memikat sekali dengan tulisan-tulisan inspiratifnya. Tak melulu soal bela diri, tapi selalu soal kehidupan dari sudut pandang seorang yang menghidupkan dan memuliakan seni bela diri.

Hampir semua statusnya di FB saya baca dan saya sukai. Status terbarunya, yang bikin saya menulis artikel ini sangat menarik, ia bicara soal motivasi orang tua mengikutkan anak-anaknya ke latihan bela diri.

“Rata-rata orangtua yang mengikutkan putra-putrinya ke bela diri ingin agar mereka bisa kompetitif ketika besar nantinya,” tulis Teguh Juwono, founder Fudoshin Aikikai Magelang, pelatih Aikido untuk security, softskill, pertahanan diri, dan terapi.

Itu alasan yang tak bisa disalahkan. Keberhasilan seseorang juga ditentukan oleh ketahanan dan kemampuannya bersaing di masyarakat yang kompetitif ini, lingkungan sosial dengan logika kalah menang, dan prestasi diukur dengan piagam, medali atau piala.

Soalnya, saya baru tahu, Aikido adalah olahraga yang tak ada ajang kompetisinya. Lantas apa yang didapatkan oleh mereka yang melibatkan diri dalam seni bela diri ini?

“Sebuah komitmen, percaya diri, komunitas yang positif, dan masih banyak lagi,” ujar Teguh Juwono yang menetap dan mengajar ratusan murid, di beberapa dojo di Yogyakarta.

Sebagai bela diri, Aikido menurut penjelasan dia, bukan cuma urusan membela diri sendiri, atau mengalahkan lawan.

Jika memenangkan kompetisi dipandang sebagai syarat sukses, maka ada syarat kemampuan lain yang sesungguhnya lebih penting: kemampuan bekerja sama.

“Untuk kesuksesan anak sebetulnya lebih membutuhkan bekerja sama dengan sesama mereka,” kata Teguh Juwono, yang sudah mengajar Aikido sejak 1996.

Maka dalam Aikido, ujarnya, latihan dimaksudkan untuk saling memahami satu sama lain, bukan dalam rangka mencari celah untuk mengalahkan lawan.

Karena itu, paparnya, sifat gerakan Aikido sangat personal, disesuaikan postur, temperamen, dan pengalaman si anak.

Menjadi guru di Aikido karenanya gambang-gampang susah. “Latihan akan lebih ideal bila dimulai dari Guru memahami apa kelebihan anak. Baru dengan berbekal kelebihan itu bagaimana menutup masalah yang timbul dari kekurangannya,” ujar Teguh Juwono.

Tak jarang, ungkapnya, yang semula mereka kira sebagai kekurangan, di kemudian hari justru menjadi kelebihannya.

Saya, bila nanti memang bergabung di dojo yang sudah saya catat nomor teleponnya itu, akan menambah satu alasan, selain untuk membuat badan saya bekerja. Saya ingin datang sebagai anak-anak yang ingin lebih mengenali diri saya sendiri. Rasanya ada bagian dari diri saya yang belum saya kenal benar, bahkan seperti musuh saya. | Hasan Aspahani / Motivasi.

Gambar oleh rieslingtrocken dari Pixabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap