CLOSE ADS
CLOSE ADS
  • Save

Batas antara Terinspirasi dan Mencontek, Ini Kata Pinot

0 Shares

Kreativitas adalah melihat apa yang dilihat orang lain dan memikirkan apa yang tidak pernah dipikirkan orang lain. ~ Albert Einstein

1001 Quotes

PINOT, seniman grafis dan animator Indonesia, yang kini menetap di New York, Amerika Serikat, menjawab pertanyaan yang banyak merisaukan para kreator.

“Apa batasan terinspirasi dan nyontek?” kata seniman yang kerap bekerja dengan brand-brand besar dunia, dalam rangkaian cuitannya di Twitter.

Pinot yang banyak menghabiskan kerja profesionalnya di berbagai negara mengatakan para kreator selalu berkarya diawali dengan mendapatkan inspirasi. “Awalnya terinspirasi, lalu timbul ide,” ujarnya.

Di situlah masalahnya. Kreator yang ceroboh bisa terjebak atau terjerumus pada tindakan mencontek ide, yang bisa jatuh pada pencurian ide.

Apa bedanya? Di mana batasnya? Dengan penjelasan yang sederhana Pinot menguraikan.

Ketika kita terinspirasi, maka ketika ditanya orang dapat inspirasi dari mana, kita menjawab jujur tentang sumbernya, orang takjub atas olahan buatan kita.

“Kalau menyontek, belum ditanya, orang sudah menebak sumber inspirasinya dan tidak bisa membedakan,” ujarnya.

Dan sebagai pencontek, kata Pinot, umumnya kita cenderung denial, mengingkari tindakan itu.

Ketika terinspirasi, kata Pinot, kita berkata, “aku pengen sekian persen dari jiwanya” dan kita menanggapi komentar orang lain dengan santai, “iya masih belajar mengolah dari sumber”.

Ketika orang berkomentar, “kok mirip sama karya si itu?” Orang yang mengambil inspirasi dengan jujur akan menjawab dengan tenang, “oh iya, si itu memang sumber inspirasi terbesar”.

Sebaliknya, ketika kita mencontek, ujarnya lagi, kita berkata, “aku pengen 100 persen jiwanya” dan menanggapi komentar serupa dengan emposional, “Kok kamu nge-judge?”.

Ya, berkarya memang berangkat dari sebuah ide, sebuah gagasan. Gagasan muncul dari inspirasi yang sumbernya bisa dari mana saja.

Kita terdorong untuk mencontek, ketika kita terobsesi menghasilkan karya yang mirip dengan karya yang kita jadikan contoh.

“Mulai merasa ekspektasinya harus bagus sesuai contoh, ngga memberi ruang diri sendiri untuk berkembang, mulai bergantung pada sumber. Nah, saat itulah kita sudah menyontek,” papar Pinot. | Hasan Aspahani | motivasi.biorgrafia.id.

Photo by Katrina Wright on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap