CLOSE ADS
CLOSE ADS
  • Save

Kenapa 6 Juta+++ Orang Nonton Film KKN di Desa Penari?

0 Shares

SATU prinsip marketing yang selalu saya ingat – mungkin satu-satunya, sebab kapasitas mengingat saya yang cekak – adalah: bermain di benak konsumen. Ini bagi saya bisa menjelaskan banyak hal.

Termasuk menejaskan kenapa film “KKN di Desa Penari” sampai saya menulis artikel ini telah ditonton oleh 6 juta lebih orang (dan sepertinya akan terus bertambah). Ini jelas menggembirakan bagi dunia perfilman kita. Industri menggeliat lagi. Orang kembali ke bioskop lagi.

Ernest Prakasa secara tak langsung (karena di cuitannya tak menyebut judul film yang dia maksud) menyebut ini fenomena FOMO, fear of missing out. Orang-orang berbondong-bondong ke bioskop karena takut ketinggalan cerita.

Takut termakan kata orang. Takut tak bisa ikut nimbrung percakapan yang lagi ramai. Semacam pelaksanaan dari syair Ronggowarstio “kalau tidak ikut edan tak kebagian”.

Ernest menyandingkannya dengan fenomena restoran yang pengunjungnya sampai bejubel tidak keruan. Kalau direnungkan, apa enaknya makan di restoran yang suasananya ramai seperti itu? Tapi itulah barangkali fenomena FOMO. Konsumen ingin merasakan pengalaman otentik, duduk, dan menyantap.

Pengalaman itu harus disebarkan dengan konten. Ya, begitulah, sejak internet marak (apalagi sejak ada IG dan Tik Tok) orang memang mulai percaya pada sabda yang paling diimani oleh netizen: konten adalah raja.

FOMO adalah persepsi. Persepsi bisa menuntun ke arah yang benar, bisa juga menyesastkan dan mengecewakan. Untuk produk dengan punya keterbatasan waktu pemasaran seperti film, barangkali ini bisa jadi jurus yang efektif. Masa tayang di bioskop ada batasnya. Dalam keterbatasan itu penting untuk memastikan bagaimana bikin sebanyak-banyaknya orang penasaran, dan beli tiket. FOMO adalah persepsi, tapi mungkin persepsi jangka pendek.

Dalam jangka panjang, untuk produk-produk tertentu, FOMO jelas tak cukup. Persepsi bagus yang terbangun harus terus dijaga. Antara lain dengan mempertahankan relasi dan relevansi produk dengan konsumen. | Hasan Aspahani / www.motivasi.biografia.id.

Foto Nikita Tumbaev / Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap